Selasa, 29 April 2014

CONTOH LAPORAN PRAKERIN

LAPORAN

PRAKTIK KERJA INDUSTRI
CV. OTTO SERVICE
KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK BODI OTOMOTIF
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat akhir dari Praktek Kerja Industri

           


Disusun Oleh : Riyana Malik
         Kelas : XI TPBO 2



PEMERINTAH KOTA BANDUNG
DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 14 BANDUNG
JL. CIJAWURA HILIR NO. 341 BANDUNG 40287 TLP. 022-756 0358

LEMBAR PENGESAHAN


Bandung, 27 April 2013


Pembimbing DUDI,                                                       Pembimbing Sekolah,



FIRMAN SYAHRUL                                                      DADAN J. EFENDI S.Pd

 


Mengetahui :


WKS Bid. Hubin,                                                           Ka. Komli,



DRS. NANA SUTEDJO                                                DRS. ERRY R. NUGRAHA

NIP. 19650330 199303 1 013                                      NIP. 19650828 199512 1 003


Kepala Sekolah,




DRS. H. SLAMET HERYADI, M.Pd.

NIP. 19640912 199403 1 005

KATA PENGANTAR

       Dengan mengucap syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat dan karunianya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan hasil pelaksanaan praktik kerja industri (PRAKERIN). Penyusunan laporan praktik kerja industri ini adalah salah satu syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Sekolah (UAS) dan Ujian Akhir Nasional (UAN) tahun diklat 2012/2013 dan laporan ini juga sebagai bukti bahwa saya (penulis) telah melaksanakan dan menyelasaikan praktik kerja industri di CV. OTTO SERVICE
       Laporan ini dapat di selesaikan dengan adanya bantuan dari pihak pembimbing baik materi maupun teknis, Oleh karena itu saya mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1.    Drs. H. Slamet Heryadi M. Pd. Selaku kepala sekolah SMKN 14 BANDUNG;
2.    Drs. Erry R. Nugraha selaku Ketua Kompetensi Keahlian;
3.    Drs. Sukowo selaku Wali Kelas;
4.    Dadan Juhara Efendi S.pd, selaku pembimbing dari sekolah;
5.    Firman Syahrul, selaku pembimbing dari industri; 
6.    Drs. Nana Sutedjo,  selaku WKS Bid. Hubungan Industri;
7.    Bapak/Ibu guru SMKN 14 BANDUNG dan seluruh karyawan CV. OTTO SERVICE selaku pendukung sekaligus motivator selama Prakerin;
8.    Dan kepada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan laporan ini sehingga selesai dengan baik.









Bandung, 27 April 2013    
Penyusun                




       RIYANA MALIK            
                                                                                        NIS. 1113467       


DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan
Kata Pengantar
Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
1.2 Tujuan

BAB II DATA PERUSAHAAN
2.1 Tenaga Kerja dan Transmigrasi
2.2 Sejarah

BAB III PELAKSANAAN PRAKERIN
3.1 Waktu dan Tempat pelaksanaan      
3.2 Kompetensi/Jenis Keterampilan
3.3 Gambar Kerja
3.4 Hasil yang di capai

BAB IV TEMUAN
4.1Keterlaksanaan (Faktor Pendukung danPenghambat)
4.2 Manfaat yang di rasakan

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang dinamis dan sarat perkembangan, karena itu perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang seharusnya terjadi sejalan dengan perubahan budaya kehidupan, perubahan dalam arti perbaikan pendidikan pada semua angkatan perlu terus menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan.
Pemikiran ini mengandung konsekuensi bahwa penyempurnaan atau perbaikan pendidikan menengah kejuruan untuk mengantisipasi kebutuhan dan tantangan masa depan perlu terus menerus dilakukan, diselaraskan dengan perkembangan kebutuhan dunia usaha/industri dan instansi, perkembangan dunia kerja, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik sehingga yang bersangkutan mampu menghadapi dan memecahkan problema kehidupan yang di hadapinya. Pendidikan harus menyentuh potensi nurani maupun potensi kompetensi peserta didik.
            Konsep pendidikan terasa semakin penting ketika seseorang harus memasuki kehidupan dimasyarakat dan dunia kerja karena yang bersangkutan harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk mengatasi problema yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.saat ini maupun masa yang akan datang.
Kurikulum SMK Edisi 2013 lebih meningkatkan kualitas lulusan sekolah menengah kejuruan, dengan kurikulum ini diharapkan jajaran pendidikan menengah kejuruan lebih mampu mengembangkan potensi anak didik sehingga saat bekerja, terbentuk pribadi yang mandiri, mampu memanfaatkan diri sebagai masyarakat dan warga negara, sebagai bagian dari lingkungan dan sebagai hamba tuhan yang maha esa. Kurikulum di rumuskan dalam upaya untuk memenuhi tuntutan perubahan orientasi pendidikan.
            Dengan demikian tujuan pendidikan menengah kejuruan agar dapat mengantarkan anak didik menjadi manusia yang bertawa terhadap tuhan yang maha esa, juga dapat mengikuti perubahan di dunia usaha, dunia industri, dan instansi. Agar kelak dapat hidup dimasyarakat bisa berkembang sesuai dengan tuntutan jaman yang selalu berubah.
            Dengan perubahan ini adalah sebagai salah satu model pendidikan menengah kejuruan untuk dapat menyesuaikan diri disamping ilmu yang di dapat disekolah juga dapat langsung mempraktekan pendidikan yang didapatnya untuk dikembangkan di dunia kerja.
1.2 Landasan Hukum
            Peraturan perundang-undangan yang mendasari dan menjadi acuan dalam pelaksanaan prakerin adalah :
1.      UUD 1945 ;
2.      Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 323/U/1997 tentang penyelenggaraan Pendididkan Sistem Ganda pada sekolah menengah kejuruan;
            Ketentuan-Ketentuan lain (yang akan disusun) berkaitan dengan Sistem Pendidikan Nasional Indonesia pada umumnya dan pendidikan Menengah Kejuruan Pada Khususnya.
            Beberapa peraturan yang perlu di antisipasi berlakunya karena digunakan sebagai dasar perkembangan dan pelaksanaan kurikulum SMK adalah peraturan yang akan menggantikan peraturan dan SK/Kepmen di bawah ini :
1.      Peraturan pemerinth Nomor 29 Tahun 1990 tentang pendidikan Menengah.
2.      Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 080/U/1993 tentang Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan.
3.      Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0490/U/1992 tentang Sekolah Menengah Kejuruan.
4.      Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 323/U/1997 tentang Penyelenggaran Pendidikan Sistem Ganda pada sekolah menengah Kejuruan.
Ketentuan-Ketentuan lainnya yang berkaitan dengan Sistem Pendidikan Nasional Indonesia pada Umumnya dan Pendidikan Menengah Kejuruan pada khususnya.
1.3 Tujuan SMK
Sekolah menengah kejuruan (SMK) sebagai bentuk satuan pendidikan kejuruan sebagai mana ditegaskan dalam penjelasan pasal 15 UU SISDIKNAS, merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang  tertentu. Tujuan umum dan tujuan khusus pendidikan menengah kejuruan adalah sebagai berikut.
Tujuan umum:
1) Meningkatkan keimanan dan ketawaan peserta didik kepada tuhan yang maha esa;
2) Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi warga negara yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis, dan bertanggungjawab;
3) Mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki wawasan kebangsaan, memahami dan menghargai keanekaragaman budaya bangsa Indonesia;
4) Mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup, serta memanfaatkan sumber daya alam dengan efektif dan efisien.


Tujuan khusus:
1) Menyiapkan peserta didik agar manusia produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada didunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah sesuai dengan kompetensi dalam program keahlian yang dipilihnya;
2) Menyiapkan peserta didik agar mampu memilih karier, ulet dan gigih dalam berkompetensi, beradaptasi dilingkungan kerja, dan mengembangkan sikap profesional dalam bidang keahlian yang diminatinya;
3) Membekali peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, agar mampu mengebangkan diri maupun melalui jenjang pendidikan yang lebih tinggi;
4) Membekali pesera didik dengan kompetensi-kompetensi yang sesusai dengan program keahlian yang dipilih.















BAB II
DATA PERUSAHAAN
2.1 Tenaga Kerja dan Transmigrasi
            Identitas Perusahaan
1.    Nama Perusahaan      :            CV.Otto Service
2.    Alamat                           :            Jln. BKR No. 19A (Lingkar Selatan) Bandung
3.    No Tlp / Fax                  :            (022) 732-1016
4.    Nama Pembimbing     :            Firman Syahrul

2.2       Sejarah
Pada awalnya sebelum di dirikan bengkel mobil CV.Otto Service, mencoba memasuki dunia perbisnisan dalam hal makanan kuliner khas Sunda yaitu dengan diberi nama Rumah Makan Saung Bambu sekitar tahun 2003 berada di jln. BKR No. 19A (Lingkar Selatan) Bandung atas nama keluarga Bpk. Adrian Portibi Siregar. Namun dalam perjalanannya banyak sekali rintangan dan hambatan dalam menjalan bisnisnya, ahkirnya pada tahun 2006 Bpk. Adrian Portibi Siregar selaku pemilik memutar otak untuk mencari peluang usaha yang lain yang akhirnya jatuh memutuskan untuk membuka bisnis Perbaikan Bodi Kendaraan Mobil dengan di beri nama CV. Otto Service pada tahun 2006.
Tempatnya pun tetap masih di tempat yang dulu dijadikan usaha Rumah Makan Saung Bambu, setahun sudah usaha tersebut digeluti namun masih saja ada kendalanya kali ini Karyawan yang bagian Management melakukan perilaku yang tidak mencontoh perilaku yang sepantasnya yaitu melakukan tindak Korupsi yang mengakibat kerugian besar bagi pihak pemilik CV. Otto Service. Semua itu, tidak dijadikan suatu alas an untuk berputus asa atau terjatuh tepat pada awal tahun 2007 CV. Otto Service resmi mengganti management yang dulu digantikan dengan Management sekarang yang bernama Bpk. Firman Syahrul. Akhirnya awal tahun 2007 hingga sekarang bengkel CV. Otto Service telah bisa diterima dan dipercayai oleh pelanggan khususnya masyarakat sekitar, meskipun tidak semua orang percaya dengan sepenuhnya kualitas dari hasil Perbaikan.






BAB III
PELAKSANAAN PRAKERIN

3.1       Waktu dan  tempat pelaksanaan
HARI
WAKTU
TEMPAT
Senin-Jum’at
08.00-12.00 WIB
12.00-17.00 WIB
CV. OTTO SERVICE
(Jl. Bkr No. 19A Bandung)
Sabtu
08.00-13.00 WIB

3.2      Kompetensi atau jenis keterampilan
Kompetensi atau jenis keterampilan yang saya kerjakan selama PRAKERIN ada 2  yaitu :
1.    Membongkar dan memasang bodi kendaraan mobil
Membongkar yaitu memisahkan antara bagian/panel yang akan di lindungi dan yang akan diperbaiki.
Memasang yaitu menyatukan kembali antara bagian/panel yang sudah di perbaiki dan yang di lindungi
2.    Persiapan
Yaitu mempersiapkan antara bagian yang tidak akan di cat dan. Adapun beberapa tahap yang ada di persiapan antaralain :
1)    Penghalusan
Yaitu proses menghaluskan panel menggunakan Amplas.
Dalam proses penghalusan menggunakan amplas, terdapat dua teknik penghalusan antaralain :
a)    Amplas Basah
Yaitu penghalusan dengan amplas dan air

b)    Amplas Kering
Yaitu penghalusan dengan amplas saja
Namun teknik yang saya gunakan adalah teknik Amplas basah.
Adapun great (#) amplas  yang kita gunakan dalam proses penghalusan yang di bedakan dalam beberapa fungsi antaralain :
a.    Amplas #400
Fungsinya untuk menghaluskan permukaan epoxy hingga teraba halus
b.    Amplas #600
Fungsinya untuk menghaluskan permukaan epoxy dan filler yang tingkatan kehalusannya lebih baik dari #400
c.    Amplas #800
Fungsinya sama, namun tingkatan kehalusannya lebih baik dari #600
d.    Amplas #1000
Fungsinya sama, hanya saja di amplas ini kehalusannya lebih merata. Amplas ini adalah tahap akhir untuk penghalusan, sehingga penghalusannya merata ke seluruh panel yang di perbaiki.
2)    Filler
Filler berguna untuk menutup lubang-lubang kecil yang tidak tertutup oleh epoxy  Yang kemudian di haluskan kembali hingga merata.
3)    Cuci
Mencuci berguna untuk membersihkan kotoran yang terdapat di panel termasuk air bekas hamplas. Alat dan bahan yang di gunakan untuk mencuci adalah scot-brite (serabut khusus), sabun dan air.
4)    Masking (membungkus)
Setelah panel yang di cuci itu di keringkan, selanjutnya adalah proses masking. Proses masking yaitu membungkus dalam arti melindungi antara panel yang akan di cat dan tidak di cat. Bahan yang di gunakan berupa Koran, kertas lem/solasi kertas dan pisau cutter.












3.3 Gambar Kerja

Gb. 3.3.1 menggunakan tembakan angin untuk membersihkan air dari bagian panel yang tidak terjangkau


Gb. 3.3.2 Menghaluskan panel pintu
Gb. 3.3.3 menutup lubang-lubang kecil menggunakan Kape dan filler sebagai alat dan bahannya.



Gb. 3.3.4 Masking






Gb. 3.3.5 Mengatur posisi Bemper pada stand



Gb. 3.3.6 Menghaluskan Kap Mesin






3.4 Hasil yang di capai
Hasil yang saya capai selama ditempat prakerin cukup layak, meskipun banyak kekurangan. Selain itu hasil dari pekerjaan yang saya kerjakan tidak selamanya berjalan dengan lancar dan baik, masih ada sedikit kesalahan yang saya lakukan tapi  tidak menjadi suatu alasan bagi saya untuk pesimis atau berputus asa namun menjadi suatu pembelajaran yang sangat penting juga menjadi bahan untuk pembenahan diri supaya lebih teliti, cermat, dan hati-hati dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
            Maka dari itu, selama dalam melakukan kegiatan “prakerin” kritik dan saran dari pekerja bengkel yang bersangkutan sangatlah di perlukan, karena hanya itu lah yang bisa menjadi suatu motivasi bagi saya agar bisa menjadi lebih untuk kedepannya,
 Selain itu, kerja sama dengan rekan dalam satu sekolah atau prakerin juga bisa menjadi faktor utama dalam membangun suatu kerja sama yang akan menghasilkan pekerjaan yang baik.
Berikut adalah beberapa gambar hasil akhir yang telah diperoleh:
Gb. 3.4.1 Hasil akhir dari Masking


Gb. 3.4.2 Hasil akhir dari Penghalusan


Gb. 3.4.3 Hasil akhir dari pemberian Filler

BAB IV
TEMUAN
4.1  Keterlaksanaan
       A. Faktor pendukung
·         Kerja sama tim yang baik
·         Pegawai yang ramah tamah
·         Waktu bekerja sangat maksimal
·         Proses pengerjaan yang sangat mudah
       B.  Faktor penghambat
·         Tidak ada tempat khusus setiap bagian pengerjaan
·         Kesalahan yang saya buat secara tidak sengaja dalam pengerjaan sebuah produk.
·         Fasilitas kurang memadai
·         alat kerja terbatas

4.2  Manfaat yang dirasakan
        Manfaat yang saya rasakan di tempat Prakerin adalah sebagai berikut :
a.    Mengetahui lebih jelas dunia industri.
b.    Menambah pengetahuan dalam teknik bodi otomotif
c.    Menjadi disiplin waktu
d.    Bertambah dewasa dalam menghadapi masalah
e.    Kemauan kerja lebih baik dari pada yang sebelumnya
f.     Pandangan masa depan yang lebih luas








BAB V
PENUTUP
5.1  Kesimpulan
        Selama saya melaksanankan praktik kerja industri, saya telah mendapatkan ilmu yang berguna untuk kehidupan saya sehari-hari, selain itu saya dapat menambah wawasan tentang dunia kerja yang sesungguhnya.
        Dan selama di tempat kerja saya mulai memahami perbedaan antara pembelajaran di sekolah dan pembelajaran yang ada di tempat kerja.Oleh Karena itu saya bersyukur kepada Tuhan yang Maha Esa bahwa dengan kesempatan mengikuti Praktik Kerja Industri yang di laksanakan selama 3 bulan itu, saya telah memperoleh wawasan yang lebih tentang teknik-teknik dalam perbaikan bodi otomotif.

5.2  Saran
Untuk Sekolah;
·         Pelaksanaan jadwal kegiatan selama Prakerin harusnya lebih diperhatikan
·         Pelaksanaan kegiatan monitoring diperjelas tujuan dan maksudnya
·         Penyerahan tugas-tugas dan pembahasan materi dilaksanakan satu minggu sekali
·         Menghimbau kepada pembimbing sekolah untuk rutin memperhatikan perkembangan peserta didiknya
Untuk industri;
·         Meningkatkan bimbingan dan perhatian pada perkembangan peserta Prakerin
·         Mengutamakan kebersihan lingkungan kerja








Minggu, 19 Januari 2014

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)



Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi pekerja atau teknisi sangat diperlukan ketika sedang bekerja. Namun tidak hanya untuk subyek pekerja (manusia) saja, tetapi K3 juga penting untuk obyek (material) yaitu benda-benda yang dikenai pekerjaan, alat-alat serta lingkungan tempat bekerja. Oleh karena itu sangat diperlukan kepedulian manusia sebagai personil yang bisa berperan aktif dalam mewujudkan keselamatan dan kesehatan kerja.

Sesuai dengan tujuannya, maka K3 mempunyai tujuan sebagai berikut:
1.         Melindungi tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaan untuk memperoleh keselamatan dan kesehatan serta kesejahteraan hidup.
2.         Menjamin tenaga kerja dalam meningkatkan produktifitas
3.         Menjamin dan melindungi tenaga kerja dan lingkungannya
4.         Menjamin sumber-sumber produksi dan perlatan yang digunakan
5.         Mencegah dan atau mengurangi terjadinya kecelakaan kerja di tempat kerja dan lingkungannya
6.         Mengurangi resiko kebakaran
7.         Mencegah dan mengurangi kerugian yang diderita oleh semua pihak
8.         Memberi perlindungan hukum dan moral bagi tenaga kerja dan manajemen perusahaan
9.         Memberi pertolongan dini bagi pekerja bila terjadi kecelakaan

Peraturan mengenai syarat-syarat keselamatan kerja diatur dalam
perundangan Republik Indonesia, yaitu UU No. 1 Tahun 1970. Syaratsyarat
keselamatan kerja yaitu:
a.         mencegah dan mengurangi kecelakaan;
b.         mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;
c.          mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;
d.         memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;
e.         memberi pertolongan pada kecelakaan;
f.           memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;
g.         mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu, kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran;
h.         mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan;
i.           memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;
j.           menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;
k.          menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;
l.           memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;
m.       memperoleh keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya;
n.         mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang;
o.         mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;
p.         mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan dan penyimpanan barang;
q.         mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;
r.          menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.
SEBAB-SEBAB KECELAKAAN KERJA
Peristiwa kecelakaan kerja merupakan suatu kondisi yang tidak diinginkan oleh semua pihak. Karena hal ini akan menimbulkan kerugian dan pembiayaan yang besar. Untuk menghindari kecelakaan kerja, maka kita perlu mempelajari sebab-sebab kecelakaan kerja, sehingga bisa mengeliminir angka kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat bersumber dari faktor manusia sendiri, maupun dari faktor lingkungan.
1.         Faktor manusia
Kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia diantaranya:
a.      Ketidaktahuan
Dalam menjalankan mesin-mesin dan peralatan otomotif diperlukan pengetahuan yang cukup oleh teknisi. Apabila tidak maka dapat menjadi penyebab kecelakaan kerja.
Pengetahuan dari operator dalam menjalankan peralatan kerja, memahami karakter dari masing-masing mesin dan sebagainya, menjadi hal yang sangat penting, mengingat apabila hal tersebut asal-asalan, maka akan membahayakan peralatan dan manusia itu sendiri.
b.      Kemampuan yang kurang
Tingkat pendidikan teknisi otomotif sangat dibutuhkan untuk proses produksi dan proses maintenance atau perawatan.
Orang yang memiliki kemampuan tinggi biasanya akan bekerja dengan lebih baik serta memperhatikan faktor keslamatan kerja pada pekerjannya. Oleh sebab itu, untuk selalu mengasah kemampuan akan menjadi lebih baik.
c.  Ketrampilan yang kurang
Setelah kemampuan pengetahuan teknisi baik, maka diperlukan latihan secara terus-menerus. Hal ini untuk lebih selalu mengembangkan ketrampilan guna semakin meminimalkan kesalahan dalam bekerja dan mengurangi angka kecelakaan kerja. Di dunia keteknikan, kegiatan latihan ini sering disebut dengan training.
d.  Konsentrasi yang kurang
Dalam melaksanakan pekerjaan dituntut konsentrasi tinggi. Mesin-mesin yang beroperasi, berputar, atau bergerak tidak memiliki toleransi apabila kita salah dalam mengoperasikan atau menjalankan mesin tersebut. Banyak sekali hal yang dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi manusia, seperti masalah pribadi atau keluarga, tekanan ekonomi, maupun faktor-faktor yang datangnya dari lingkungan seperti kondisi ruangan yang panas, atau terlalu dingin, suara yang berisik, mesin yang bising dan lain sebagainya. Oleh karena itu, faktor psikologis manusia dan lingkungan harus dikondisikan agar manusia nyaman dalam bekerja sehingga mengurangi angka kecelakaan kerja.
e.  Bermain-main
Karakter seseorang yang suka bermain-main dalam bekerja, bisa menjadi salah satu penyebab terjadinya angka kecelakaan kerja. Demikian juga dalam bekerja sering tergesa-gesa dan sembrono juga bisa menyebabkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu, dalam setiap melakukan pekerjaan sebaiknya dilaksanakan dengan cermat, teliti, dan hati-hati agar keselamatan kerja selalu bisa terwujud. Terlebih lagi untuk pekerjaan yang menuntut adanya ketelitian, kesabaran dan kecermatan, tidak bisa dilaksanakan dengan berkerja sambil bermain.

f.  Bekerja tanpa peralatan keselamatan
Pekerjaan tertentu, mengharuskan pekerja menggunakan peralatan keselamatan kerja. Peralatan keselamatan kerja dirancang untuk melindungi pekerja dari bahaya yang diakibatkan dari pekerjaan yang baru dilaksanakan. Dengan berkembangnya teknologi, saat ini telah dibuat peralatan keselamatan yang nyaman dan aman ketika digunakan. Perlatan keselamatan tersebut diantaranya pakaian kerja (wearpack), helm pengaman, kacamata, kacamata las, sarung tangan, sepatu kerja, masker penutup debu, penutup telinga dari kebisingan, tali pengaman untuk pekerja di ketinggian dan sebaginya. Terkadang orang yang sudah merasa mahir justru tidak menggunakan peralatan keselamatan, misal dalam mengelas tidak menggunakan topeng las. Hal ini sangatlah salah, pekerja yang mahir dan profesional justru selalu menggunakan peralatan keselamatan kerja untuk menjaga kualitas pekerjaan yang terbaik serta keselamatan dan kesehatan dirinya selama bekerja.
g.  Mengambil resiko yang tidak tepat
Karena tidak mau repot dalam bekerja, orang kadang melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan tindakan yang selamat. Sebagai contoh, pekerja malas mengambil topeng las di rak keselamatan kerja, langsung mengelas tanpa pelindung mata. Tanpa di duga, ada percikan api las yang mengenai mata. Setelah dilakukan pengobatan, ternyata besarnya biaya pengobatan tidak sebanding dengan beberapa detik mengambil peralatan keselamatan kerja. Demikian juga dengan mesin, sudah tahu bahwa oli sudah waktunya diganti, karena hanya menyisakan pekerjaan sedikit saja, oli mesin tidak diganti. Ternyata dengan kualitas oli yang jelek, justru mesin menjadi panas (overheating) dan harus turun mesin,dengan biaya yang jauh lebih tinggi, ditambah tetap harus mengganti oli.

2.         Faktor lingkungan
Faktor lingkungan juga andil dalam terjadinya kecelakaan kerja.
a.  Tempat kerja yang tidak layak
Tempat kerja harus memenuhi syarat-syarat keselamatan kerja, seperti ukuran ruangan tempat kerja, penerangan, ventilasi udara, suhu tempat kerja, lantai dan kebersihan luangan, kelistrikan ruang, pewarnaan, gudang dan lain sebagainya. Jika tempat kerja tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, maka kecelakaan kerja sangat mungkin terjadi.
b.  Kondisi peralatan yang berbahaya
Mesin-mesin dan peralatan kerja pada dasarnya mengandung bahaya dan menjadi sumber terjadinya kecelakaan kerja. Misalnya karena mesin atau peralatan yang berputar, bergerak, bergesekan, bergerak bolak-balik, belt atau sabuk yang berjalan, roda gigi yang bergerak, transmisi serta peralatan lainnya. Oleh karena itu, mesin dan perlatan yang potensial menyebabkan kecelakaan kerja harus diberi pelindung agar tidak membahayakan operator atau ,manusia.
c.  Bahan-bahan dan peralatan yang bergerak
Pemindahan barang-barang yang berat atau yang berbahaya (mudah meledak, pelumas, dan lainnya) dari satu tempat ke tempat yang lain sangat memungkinkan terjadi kecelakaan kerja. Untuk menghindari kecelakaan kerja tersebut, perlu dilakukan pemikiran dan perhitungan yang matang, baik metode memindahkannya, alat yang digunakan, jalur yang akan di lalui, siapa yang bisa memindahkan dan lain sebagainya. Untuk bahan dan peralatan yang berat diperlukan alat bantu seperti forklift. Orang yang akan mengoperasikan alat bantu ini harus mengerti benar cara menggunakan forklift, karena jika tidak, kemungkinan akan timbul kesalahan dan mengancam keselamatan lingkungan maupun tenaga kerja lainnya.
d.  Transportasi
Kecelakaan kerja yang diakibatkan dari penggunaan alat transportasi juga cukup banyak. Dari penggunaan alat yang tidak tepat (asal-asalan), beban yang berlebihan (overloading), jalan yang tidak baik (turunan, gelombang, licin, sempit), kecepatan kendaraan yang berlebihan, penempatan beban yang tidak baik, semuanya bisa berpotensi untuk terjadinya kecelakaan kerja. Upaya untuk mengatasi hal tersebut di atas, diantaranya adalah memastikan jenis transportasi yang tepat dan aman, melaksanakan operasi sesuai dengan standart operational procedure (SOP), jalan yang cukup, penambahan tanda-tanda keselamatan, pembatasan kecepatan, jalur khusus untuk transportasi (misal dengan warna cat) dan lain sebagainya.



BAHAYA TERJADINYA KEBAKARAN
Menurut National Fire Protection Assosiation dalam buku Storm (1993:92) dijelaskan klasifikasi kebakaran menjadi 4 kategori:
a.     tipe A adalah kebakaran untuk kayu, kertas, kain serta bahan-bahan yang berasal dari jenis tersebut dan alat yang digunakan sebagai pemadam adalah tabung bersimbol A dalam segitiga warna hijau;
b.     tipe B adalah kebakaran untuk bahan bakar bensin, oli, ter, terpentin, cat dan yang sejenis dan alat yang digunakan sebagai pemadam adalah tabung bersimbol B dalam segitiga warna merah;
c.     tipe C adalah kebakaran untuk peralatan kelistrikan, panel-panel listrik, motor listrik dan alat yang digunakan sebagai pemadam adalah tabung bersimbol C dalam segitiga warna biru; dan
d.     tipe D adalah kebakaran untuk logam seperti magnesium, sodium, titanium, lithium dan yang sejenis dan alat yang digunakan sebagai pemadam adalah tabung bersimbol D dalam segitiga warna kuning.

Sedangkan di Indonesia sendiri, tipe D jarang digunakan, karena masih jarangnya pengolahan logam yang berbahaya. Dalam bengkel kerja juga diberlakukan sistem pengkodean warna untuk keselamatan. Lebih lanjut Storm (1993) menjelaskan: (a) warna merah mengindikasikan bahaya atau berhenti beroperasi; (b) warna orange, untuk bagian komponen dari mesin yang berbahaya, misal bagian pemotong, pengangkat, berputar dan sebagainya; (c) warna kuning sebagai tanda peringatan karena bagian atau komponen yang berbahaya; (d) warna hitam didalam kuning, berarti terdapat bahaya radiasi; (e) warna hijau, berarti daerah aman misal tempat kotak P3K dan peralatan keselamatan kerja; dan (f) warna biru sebagai rambu-rambu informasi.
a.         Sumber api
Kebakaran merupakan salah satu bentuk kecelakaan industri dan masyarakat umum, yang sering terjadi di Indonesia. Peristiwa kebakaran menimbulkan banyak kerugian dan korban harta benda dan jiwa. Karena itu perlu mendapat perhatian untuk dicari pencegahannya.
Dari mana sumber kebakaran ini berasal (mula-mula) di bawah ini diinventarisir:
1.  Adanya api yang luput dari pengamatan.
Ini dapat terjadi misalnya api yang berasal dari puntung rokok yang dilempar begitu saja oleh perokok yang lalai. Ia melempar puntung rokok tanpa disadari di tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar. Akibatnya sangatlah fatal, yaitu kebakaran itu sendiri.
2.  Salah pakai dan kesalahan pada instalasi listrik.
Kesalahan tersebut mengakibatkan hubungan singkat ataupun terjadinya api listrik yang mengakibatkan awal api/ kebakaran. Jika api listrik terjadi pada bahan-bahan yang mudah terbkar, maka akan menjadi sumber api awal/ sumber kebakaran.
3.  Adanya bahan-bahan yang mudah terbakar.
Bahan-bahan yang mudah terbakar di industri dan di tempat kerja, merupakan sumber api/ kebakaran. Apabila bahan-bahan itu berkumpul dengan unsur lain yang menjadi bahan terjadinya api, maka terjadilah api/ kebakaran. Oleh karena itu bahan-bahan yang mudah terbakar penyimpanannya pada tempat tersendiri dan harus jauh dari sumber api.
4.  Api las gas acetylen.
Pesawat gas acetylen dan aparat las acetylen haruslah betul-betul terjaga kerapatan pada sambungannya, agar bebas dari kebocoran gas acetylen. Karena gas acetylen yang bercampur dengan udara (O2) menjadi sangat mudah terbakar.Pemeriksaan secara periodik, terutama sebelum dan sesudah bekerja sangatlah penting sebagai tindakan penjagaan.
5.  Instalasi minyak/ bahan bakar cair.
Minyak dan bahan bakar cair merupakan bahan bakar yang jelas mudah terbakar. Karena itu instalasi minyak dan bahan bakar cair haruslah aman dari bocoran-bocoran pada sambungan-sambungannya. Api/ sumber api harus dijauhkan dari instalais minyak dan bahan bakar cair. Tanda-tanda peringatan bahaya api harus dipasang, agar menjadi perhatian orang dan diindahkan/ ditaati aturan-aturan larangan merokok dan sebagainya.
6.  Api berasal dari panas mekanis/ loncatan api mekanik.
Panas/ api dapat muncul akibat panas mekanis, yaitu pada pekerjaan-pekerjaan menggerinda, memahat, membentuk dengan palu, menggergaji, mebubut, memasah pahat, mengasah pisau-pisau/ pahat bubut, dan lain sebagainya. Maka pada tempat yang potensial menghasilkan panas mekanis harus bersih dari bahan yang mudah terbakar.
7.  Adanya anak yang bermain api.
Bermain baik dilakukan oleh orang dewasa maupun anak-anak sangatlah berbahaya. Lebih-lebih dilakukan oleh anak-anak di tempat yang banyak terdapat bahan yang mudah terbakar. Tentu menjadi sangat berbahaya.
8.  Instalasi bahan bakar gas.
Instalais bahan bakar gas haruslah bebas dari bocoran-bocoran pada sambungan-sambungannya. Pemeriksaan secara periodik semua sambungan dan pipa-pipa instalasi haruslah dilakukan dengan teliti. Api/ sumber api harus dijauhkan dari istalasi bahan bakar gas.
9.  Nyala api terbuka.
Nyala api terbuka hendaknya jauh dari bahan-bahan yang mudah terbakar. Api nyala terbuka hendaknya dilengkapi dengan cerobong/ penghisap tarikan udara. Hal itu dimaksudkan agar api tidak mengarah ke tempat lain, tetapi ke arah cerobong, untuk selanjutnya gas-gas bekasnya dibuang keluar melalui cerobong tersebut.
10.            Api berasal dari sampah yang tertimbun.
Sampah yang tertimbun, karena proses penimbunan terjadi reaksi yang menimbulkan panas. Panas ini bisa menjadi sumber pembakaran. Apabila kemudian ada sumber bahan yang mudah terbakar dan adanya api penyulut maka bisa menjadi sumber kebakaran.

b.         Terjadinya api
Api terjadi karena adanya tiga unsur, yaitu:
1.  Bahan bakar (fuel)
Yang dimaksud bahan bakar disini adalah semua bahan-bahan yang dapat terbakar/ mudah terbakar, yang dipergunakan di industri maupun masyarakat pada umumnya.
2.  Panas (heat)
Panas ini akan menjadikan bahan bakar tersebut diatas suhunya naik. Apabila naiknya suhu karena panas sampai kepada suhu nyala maka bila ada sumber api maka akan mudah menyala, jika ada unsur yang ke 3 yaitu:
3.  Udara (oxygen)
Oksigen (O2) yang terdapat dalam udara merupakan unsur yang diperlukan dalam pembakaran/ terjadinya api. Apabila udara cukup, maka pembakaran bahan bakar dapat berlangsung dengan sempurna.

Dari uraian di atas dapatlah dipahami bahwa api/kebakaran terjadi apabila ketiga unsur di atas lengkap. Maka apabila unsur itu tidak terpenuhi maka api tidak akan terjadi. Oleh karena itu, penanggulangan kebakaran yaitu memadamkan api/kebakaran ditempuh dengan meniadakan salah satu atau dua atau ketiga unsur pembuat api.
Untuk meniadakan bahan bakar, yaitu dengan usaha agar bahan-bahan yang terbakar tidak bertambah, maka diusahakan dengan memisahkan dan menjuhkan bahan-bahan lain yang depat menambah bahan yang terbakar.
Untuk meniadakan panas atau menurunkan suhu, sehingga panasnya/ suhunya dapat turun tidak mencapai suhu penyalaan maka diusahakan dengan menyiram, maksudnya untuk menurunkan suhu/ panasnya agar tidak mencapai suhu penyalaan dari bahan bakar/ bahan-bahan yang terbakar.
Untuk meniadakan udara (O2), maka diupayakan dengan jalan mengisolasi api, sehingga suplai O2 tidak cukup untuk pembakaran, atau dengan pemadam karbon dioksida, dan pemadam lainnya sehingga suplai O2 tidak ada lagi, atau kebutuhan O2 untuk api tidak cukup lagi, sehingga api menjadi mati.

c.         Pencegahan kebakaran
Pencegahan api/ kebakaran ditempuh dengan cara antara lain:
1.          Pengaturan (manajemen) kerumahtanggaan (house keeping) yang baik.
2.          Menempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar pada tempat tersendiri, jauh dari api/ sumber api.
3.          Mencegah campuran yang mudah terbakar/ meledak, jangan sampai berada di tempat kerja, dekat dengan api/ sumber api.
4.          Menghilangkan sumber-sumber api/ nyala api.
5.          Pengawasan dan pemeriksaan periodik terhadap kemungkinan terjadinya kebakaran.

d.         Persiapan penanggulangan kebakaran
Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai tindakan persiapan penanggulangan kebakaran/ terjadinya api adalah antara lain tindakan-tindakan:
1.  Perencanaan instalasi pemadam kebakaran
Perencanaan ini dibuat sekaligus pada waktu perencanaan gedung/ tempat kerja, berupa:
a)     Instalasi pemadam kebakaran dengan pancaran air, memanfaatkan tekanan air dari menara air yang tinggi, dengan pipa-pipa hidran di beberapa tempat sesuai jangkauan semburan airnya.
b)     Instalasi pemadam kebakaran dengan air, dengan menggunakan pompa-pompa air, menggunakan motor sebagai penggerak pompanya atau dengan motor listrik. Instalasi pemadam kebakaran dengan air tersebut perlu dicoba dan dimanfaatkan airnya, yaitu pada musim kering/ kemarau dapat digunaka untuk menyiram/membuat hujan lokal, untuk menyiram tanaman dan halaman.
2.     Menyediakan pemadam kebakaran yang dapat dibawa/ dibawa dengan mudah sesuai keperluan. Yaitu jenis pemadam api busa (foam), pemadam api kering (dry powder extinguisher), pemadam api carbon dioksida/ gas CO, dan lain-lain, yang penggunaannya sesuai dengan jenis.
3.     Adanya sistem tanda bahaya (sirine) di perusahaan, baik sistem tidak otomatis maupun sistem yang otomatis.
4.     Adanya pintu-pintu darurat dan jalan-jalan untuk menyelamatkan diri.
5.     Adanya tangga biasa disamping elevator dan lift untuk menyelamatkan diri.
6.     Dan lain-lain tindakan yang dapat dikembangkan, seperti pendidikan akan bahaya kebakaran dan cara penanggulangan kepada anak.

e.         Peralatan Pencegahan Kebakaran
1.  APAR / Fire Extinguishers / Racun Api
Peralatan ini merupakan peralatan reaksi cepat yang multi guna karena dapat dipakai untuk jenis kebakaran A,B dan C. Peralatan ini mempunyai berbagai ukuran beratnya, sehingga dapat ditempatkan sesuai dengan besar-kecilnya resiko kebakaran yang mungkin timbul dari daerah tersebut, misalnya tempat penimbunan bahan bakar terasa tidak rasional bila di situ kita tempatkan racun api dengan ukuran 1,2 Kg dengan jumlah satu tabung. Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada yang dari bahan kimia kering, foam/ busa dan CO2, untuk Halon tidak diperkenankan dipakai di Indonesia.
2.  Hydran
Ada 3 jenis hydran, yaitu hydran gedung, hydran halaman dan hydran kota, sesuai namanya hydran gedung ditempatkan dalam gedung, untuk hydran halaman ditempatkan di halaman, sedangkan hydran kota biasanya ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit Pemadam Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air.

3.  Detektor Asap / Smoke Detector
Peralatan yang memungkinkan secara otomatis akan memberitahukan kepada setiap orang apabila ada asap pada suatu daerah maka alat ini akan berbunyi, khusus untuk pemakaian dalam gedung.
4.  Fire Alarm
Peralatan yang dipergunakan untuk memberitahukan kepada setiap orang akan adanya bahaya kebakaran pada suatu tempat
5.  Sprinkler
Peralatan yang dipergunakan khusus dalam gedung, yang akan memancarkan air secara otomatis apabila terjadi pemanasan pada suatu suhu tertentu pada daerah di mana ada sprinkler tersebut

f.          Pencegahan Kebakaran
Setelah kita mengetahui pengklasifikasian, prinsip pemadaman dan perlengkapan pemadaman suatu kebakaran maka kita harus bisa mengelola kesemuanya itu menjadi suatu sistem manajemen /pengelolaan pencegahan bahaya kebakaran.
Kita mengambil contoh dari pengelolaan pencegahan kebakaran pada bangunan tinggi.
1.     Identifikasi bahaya yang dapat mengakibatkan kebakaran pada gedung itu.
a)     Bahan Mudah Terbakar, seperti karpet, kertas, karet, dan lain-lain
b)     Sumber Panas, seperti Listrik, Listrik statis, nyala api rokok dan lain-lain
2.  Penilaian Resiko
Resiko tinggi karena merupakan bangunan tinggi yang banyak orang
3.  Monitoring
Inspeksi Listrik, Inspeksi Bangunan, Inspeksi Peralatan Pemadam Kebakaran, Training, Fire Drill / Latihan Kebakaran dan lain-lain     
4.  Recovery / Pemulihan
Emergency Response Plan / Rencana Tindakan Tanggap Darurat, P3K, Prosedur-prosedur, dan lain-lain.

g.         Bahan eksplosif
Bahan-bahan yang mudah terbakar bisa menjadi sumber api pertama kali (sumber kebakaran), antara lain:
1.          Amonia
2.          Acetylen
3.          Aseton
4.          Gasolin
5.          Benzen
6.          Etel alkohol
7.          Etil eter
8.          Eter minyak
9.          Hidrogen
10.      Kamper
11.      Karbon disulfida
12.      Karbon monoksida
13.      Kloretan
14.      Minyak katsroli
15.      Minyak linsid
16.      Minyak tanah
17.      Parafin

Pada industri-industri tertentu, bahan-bahan berikut menjadi sumber bahaya kebakaran:
1.          Kapas, pada industri tekstil
2.          Alkohol, ester, dan lain-lain, pada industri kimia, farmasi, industri pernis dan perlak.
3.          Benzena dan homolog, pada industri karet.
4.          Minyak linsid, pada industri pembuatan tahan air.
5.          Formaldehid, pelarut dan lain-lain, pada industri plastik.
6.          Pelarut, seperti n-heksan, n-heptan, dan n-pentan, pada industri ekstrasi pelarut.
7.          Bubuk kayu, pada industri kayu.
8.          Karbon disulfida, pada industri rayon viskos.
9.          Bahan yang mengandung selulosa, pada industri kertas.
10.      Dan lain-lain.


Selasa, 14 Januari 2014

Teknik Dasar Pengelasan

Pengelasan >>>>> Proses penyambungan logam dengan pemanasan setempat menggunakan arus listrik, sehingga terjadi "Ikatan   Metalurgi".


* MACAM - MACAM PENGELASAN :

1.) Las Listrik
2.) Las Karbit
3.) Pateri / Solder
4.) Pandai Besi
5.) Las Titik
6.) Las Roll
7.) TIG
8.) MIG
9.) Submerged

* PERALATAN LAS :

Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pengelasan antaralain ;
I. Peralatan Utama
   ~ Mesin Las / Trafo Las
   ~ Arus Listrik >>>> 1.) AC ( Alternating Current ) = Arus bolak - balik
                                   2.) DC ( Dirrect Current ) = Arus Searah
   ~ Holder / tang elektroda / penjepit elektroda
   ~ Men massa / Plek massa
   ~ Kabel Las >>>> 1.) kabel elektroda
                                 2.) kabel massa
                                 3.) kabel tenaga

II. Peralatan Keselamatan Kerja
   ~ Topeng las = melindungi mata dari sinar las
   ~ Masker / blower hisap = pelindung hidung untuk menghindari asap las
   ~ Apron
   ~ Sarung tangan
   ~ Sepatu


   ~ Kamar Las

III. Peralatan Bantu
   ~ Tang
   ~ Sikat baja
   ~ Palu kerak
   ~ Meja las
   ~ Mesin Gerinda


"Ada 6 Tahapan Cara Untuk Mengelas"

1.) Mengetahui kemiringan elektroda terhadap holder/penjepit elektroda
2.) Posisi kemiringan elektroda terhadap benda kerja
3.) Posisi badan
4.) Kemiringan elektroda ( 70 / 80 derajat ) dan arah pengelasan mengikuti arah kemiringan elektroda
5.) Menggores
6.) Posisi topeng las untuk keselamatan kerja

* MACAM - MACAM POSISI PENGELASAN :

# 1G = posisi mengelas dibawah tangan
# 2G = posisi mengelas dihadapan badan ( horizontal )
# 3G = posisi mengelas dihadapan badan ( vertikal )
# 4G = Posisi mengelas diatas kepala ( over head )


$ KESIMPULAN 1 :
   Jika kita mengelas dengan cara perlahan - lahan / hati - hati maka hasil pengelasan akan baik. Tetapi jika kita mengelas dengan cara cepat / terburu - buru maka hasil kerjanya kurang baik, karena dalam teknik pengelasan dibutuhkan kehati - hatian, ketelitian, dan keuletan agar hasil kerja / pengelasan dapat dilakukan dengan baik.


$ KESIMPULAN 2 :
   Dalam teknik pengelasan bagi pemula, sangat sulit untuk menghasilkan hasil las yang baik dan untuk menghasilkan hasil las yang baik posisi tubuh harus sesuai dengan posisi benda yang akan dikerjakan.
Adapun kesulitan - kesulitan dalam mengelas antaralain ;
- Gugup
- Takut untuk menggerakkan busur las
- Takut terkena percikan api dari proses pengelasan
- Sulit berkonsentrasi

Read more at http://teknikmesin2011unila.blogspot.com/2012/10/teknik-dasar-pengelasan.html#YHauJJlTypqF1UUO.99

TIPS MERAWAT KACA MOBIL

Toyota Education Media

Sebagian besar pengguna kendaraan belum mengetahui jika kaca mobil yang telah mengalami kerusakan (terdeformasi) atau berjamur akan sulit diperbaiki, atau bahkan tidak dapat diperbaiki. Agar kaca kendaraan tetap berada dalam kondisi yang baik, pengguna kendaraan perlu merawat kaca kendaraannya secara berkala.

JENIS KACA MOBIL:
1. TEMPERRED GLAS (TEMPERLITE)
Merupakan kaca biasa yang diperkeras dengan proses pemanasan sampai mencapai suhu 650°C kemudian didinginkan seketika. Kaca jenis ini relatif sulit dipecahkan, karena memiliki kekuatan tiga kali lebih kuat dari kaca biasa, namun akan mudah pecah berkeping seperti kristal jika tertembus neda tajam melebihi seper-enam tebal kaca tersebut
Penggunaan Kaca Jenis Temperlite
digunakan untuk kaca samping dan belakang mobil. Faktor kaca samping dan belakang kendaraa menggunakan jenis temperred :
    • Jika kaca samping terkena benturan atau benda keras tumpul kaca tidak mudah pecah.
    • Khusus untuk kendaraan bus, jika terjadi keadaan genting, kaca samping akan dengan mudah dipecahkan dengan menggunakan alat pemecah yang biasa menempel di dinding kendaraan.
2. LAMINATED GLASS (LAMISAFE)
Jenis kaca ini terbentuk dari tiga lapis material, yaitu dua kaca melapisi lembaran film (Polyvinyl Butiral Film/PVB) yang berasa dilapisan tengah. Kekuatan kaca jenis ini terletak pada filmnya yang sangat kuat dan liat sehinggan dapat menambah kekuatan kaca, selain itu fungsi film ini adalah menjaga agar jika terkena benturan, kaca akan tetap menempel pada filmnya. Kaca jenis ini dapat menahan sinar ultra violet hingga 96%.
Penggunaan Kaca Jenis Lamisafe
Digunakan untuk kaca depan mobil. Faktor kaca depan kendaraan menggunakan jenis laminated:
    • Ketika kaca terkena benturan atau lemparan benda keras, pecahan kaca tidak akan berhamburan, terutama area anggota badan, karena pecahan kaca menempel pada lembaran film.
    • Selain itu, pengendara masih dapat melihat jalan karena kerusakan kaca terkonsentrasi hanya pada daerah benturan.
TIPS MERAWAT KACA MOBIL : 
1. Bersihkan Kaca Jika Terkena Kotoran
    • Jika kaca terkena debu kering, bersihkan kaca dengan menggunakan kemonceng halus (bulu ayam) terlebih dahulu, kemudian kain atau lap kering bersih yang berbahan lembut. Hal ini dapat mencegah tejadinya baret-baret halus pada kaca.
    • Jika kaca terkena debu atau tanah basah, siram dengan air bersih secukupnya terlebih dahulu untuk mengangkat kotoran dari kaca, setelah itu dibersihkan dengan kain atau lap kering bersih berbahan lembut sampai kering.
    • Jika kaca terkena air hujan, siram dengan air bersih terlebih dahulu, karena dikawatirkan air hujan mengandung asam yang dapat merusak struktur kaca kendaraan, setelah itu bersihkan dengan kain atau lap kering bersih berbahan lebut sampai kering
2. Periksa Kondisi Wiper Kendaraan
    • Periksa secara rutin kondisi wiper kendaraan, karena jika wiper sudah rusakd akan mengakibatkan goresan pada kaca. Gantilah wiper yang sudah rusak , yang umumnya memiliki tanda antara lain; karetnya sudah tidak lentur, terdapat retakan pada karet, dan jika digunakan tidak menyapu air secara sempurna.
    • Tidak mengoperasikan wiper ketika kaca dalam kondisi kering, terutama jika kaca dalam kondisi brdebu atau kotor, karena akan mengakibatkan goresan halus pada kaca. Jika akan menggunakan wiper, semprotkan cairan wiper secukupnya terlebih dahulu.
    • Periksa secara rutin isi tangki cairan wiper untuk memastikan cairan selalu tersedia.
    • Untuk menjaga kondisi karet wiper agar tidak cepat rusak serta menjaga kondisi kaca, sebaiknya angkat lengan wiper ketika kendaraan diparkir dalam jangka waktu yang lama, terutama jika di bawah terik sinar matahari.
3. Periksa Sisa Pembersih Kaca Bagian Dalam dan Luar
    • Jika menggunakan cairan concentrate pembersih kaca pastikan sisa cairan dilap sampai bersih, jangan sampai tertinggal dan mengering dengan sendirinya pada kaca, hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada kaca. Jenis kerusakan yang diakibatkan tertinggalnya cairan pembersih kaca antara lain: rusaknya struktur kaca, terkelupasnya ceramic pada kaca, kaca menjadi buram, terkelupasnya defogger, timbulnya jamur, dll.
    • Sebaiknya gunakan cairan pembersih kaca yang memiliki PH normal (7), tidak memiliki keasaman yang tinggi sehingga tidak merusak struktur kaca.
CONTOH KERUSAKAN PADA KACA MOBIL YANG SERING TERJADI:
  1. Kerusakan kaca yang terjadi jika saat proses membersihkan kaca, cairan pembersih kaca didiamkan atau tertinggal sampai mengering dengan sendirinya.
  2. Kerusakan kaca yang terjasi jika terkena (air cuci, air hujan, airk kotor) yang tidak segera dibersihkan
  3. Kerusakan kaca yang terjadi jika wiper bergerak terus menerus saat kaca dalam kondisi kering dan terdapat debu pasir yang menempel kuat pada wiper atau kaca, atau juga jika mengoperasikan wiper dalam kondisi rusak.
- See more at: http://www.toyota.astra.co.id/toyota-true-friend/education-media/detail/tips-merawat-kaca/#sthash.xXqQWZY0.dpuf